Teks
Reformasi dan Elemen-Elemen Revolusi
Tak Percuma Setiawan Djody pernah tinggal di rumah seorang industriawan saat bersekolah di Amerika. “Saya tinggal dengan keluarga-keluarga ‘kapitalis’ yang menguasai media cetak dan elektronik, terutama di Pennsylvania,“tuturnya.Dari mereka ia belajar mengelola kapital, merkantilisme, dan terlibat dalam usaha-usaha sektor riil.
Selain itu, ia sempat berkenalan dengan beberapa senator di berbagai negara bagian, antara lain Barry Goodwater dan Henry Kissinger, selain itu ia juga bergaul dengan tokoh ekonom maupun politik dan belajar geo politik filsafat dengan tutor dari Wharton University.Mereka semua merupakan private tutor bagi Djody.Ia juga menyelesaikan S2 di salah satu perguruan tinggi nasional dalam bidang sumber daya manusia (Human Resources).Selain itu Djody juiga pernah belajar dengan Prof.Yuwono Sudarsono, yang sekarang menjabat sebagai Menhamkan.Oleh sebab itu ia lebih suka dikatakan seorang autodidak.Pulang ke Indonesia, ia mengmbangkan bisnis perminykan di awal 1970-an.Kemudian, bersama Tung Chi Hwa mantan Gubernur Hongkong Djody membangun kapal pengangkut minyak mentah.Pada pertengahan 1980-an, ia mengembangkan proyek LNG Transportasion.Bos Setdco Group ini sampai kini masih berahan sampai dunia bisnis, khususnya bidak perminyakan dan telekomunikasi.
Selain menjadi pengusaha, Djody juga di kenal pula sebagai pemusik. Musik ia anggap sebagai suara yang universal untuk menyuarakan kebenaran.”Daripada saya berteriak melalui partai politik mendingan saya menyalurkannya lewat musik,” kata pengusaha yang berkawan dengan penyair Rendra dan Penyanyi Iwan Fals ini.Beberapa alat musik ia mainkan tapi yang betul-betul ia kuasai adalah gitar. Oleh The Rolling Stone Magazine (1990), Djody dinobatkan sebagai gitaris terbaik. Bersama grup Kantata Takwa, Swami, dan Kantata Revalvere, ia telah meluncurkan sejumlah lagu.Diantaranya telah mengeluarkan album Solo, Dialog (1996)
Djody juga terlibat dalam dunia pemikiran terutama sosial demokrat.”saya tertarik karena sosial demokrat merupakan jalan tengah yang mungkin bisa menjadi alternatif,”katanya.Untuk itu, ia aktif di Yayasan Kantata Bangsa.Saat ini ia juga menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia Rusia, anggota Dewan Pembina PGRI, dan anggota Dewan Penyantun Universitas Sebelas Maret Solo.
Tidak tersedia versi lain